Boediono adalah Wakil Presiden RI tahun 2009 - 2014. Saat
nama Boediono diresmikan sebagai Wakil Presiden Indonesia mendampingi Susilo
Bambang Yudhoyono, sejumlah pro-kontra mewarnainya. Kurangnya latar belakang
dan pengalaman di bidang politik membuatnya dianggap tak pantas menjadi 'orang
kedua' di Indonesia, walau akhirnya prestasi Boediono-lah yang meredam semua
pro-kontra ini.
Tak bisa dipungkiri, karir dan pengalaman pria kelahiran
1943 ini di bidang ekonomi-lah yang membawanya ke kursi wakil presiden. Namanya
tercatat sebagai Wakil Presiden kedua yang berlatar belakang ekonomi dan
non-partisan, setelah Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta.
Nama Boediono sendiri sudah lama terdengar sebelum dirinya
menjabat sebagai Wakil Presiden. Pendidikan ekonomi yang didapatkannya dari
Universitas Western Australia, Universitas Monash, dan Wharton School
Universitas Pennsylvania diterapkan di bidang akademis sekaligus praktis. Suami
Herawati ini aktif mengabdikan diri di bidang akademis dengan menjadi Executive
Board for Asia - Wharton Advisory Boards di almamaternya, Wharton School of the
University of Pennsylvania. Di dalam negeri, Boediono juga masih aktif mengajar
sebagai Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.
Tak hanya berkutat di lingkup universitas, ayah dua anak
ini mulai mempraktikkan ilmunya di tahun 1998. Dirinya diangkat sebagai Menteri
Perencanaan Pembangunan di Kabinet Reformasi Pembangunan yang dipimpin oleh
Presiden BJ Habibie. Sayangnya, satu tahun kemudian Boediono terpaksa
meninggalkan jabatan pemerintahan karena digantikan oleh Kwik Kian Gie saat
Presiden Abdurrahman Wahid menjabat.
Terbukti, dirinya tak pernah bisa jauh dari jabatan
pemerintahan. Walau sempat tak menjabat, pria yang berdomisili di Yogyakarta
ini kembali ditarik menjadi Menteri Keuangan di Kabinet Gotong Royong pimpinan
Presiden Megawati di tahun 2001. Prestasi dan kecemerlangannya mulai tampak
dengan jabatan ini, salah satunya adalah dengan melepaskan Indonesia dari
ketergantungan pada bantuan Dana Moneter Internasional sekaligus mengakhiri
kerjasama yang selama ini menjadi beban besar negara. Sejak krisis moneter di
tahun 1998, makroekonomi Indonesia masih belum bisa disebut stabil. Boediono
dan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (Menteri Koordinator Perekonomian)-lah yang
akhirnya berhasil menstabilkan kurs rupiah di angka Rp9000 per dolar AS.
Prestasi ini membuat keduanya disebut sebagai The Dream Team oleh BusinessWeek.
Dengan prestasi besarnya, Boediono diperkirakan akan tetap
bertahan dan menjabat sebagai Menteri Keuangan di tahun 2004. Ternyata, dirinya
digantikan oleh Jusuf Anwar saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai
Presiden. Keputusan ini bukan semata-mata berasal dari SBY, namun justru karena
Boediono memilih untuk beristirahat dan kembali aktif di bidang akademis.
Tak perlu menunggu terlalu lama, setahun kemudian, nama
pria berdarah Jawa ini kembali berada di jajaran Menteri, menggantikan Aburizal
Bakrie sebagai Menteri Koordinator bidang Perekonomian saat SBY mereshuffle
kabinetnya. Penggantian Ical, begitu ia biasa disapa, disambut positif oleh
pasar, dengan indikasi menguatnya IHSG dan mata uang rupiah. Hal ini menunjukkan
harapan besar pada Boediono, yang dianggap mampu sekali lagi menguatkan
stabilitas makro-ekonomi Indonesia.
Karir Boediono di bidang ekonomi semakin meningkat.
Dirinya resmi menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia di tahun 2008.
Sepertinya hampir tak ada kontra atas pengangkatan Boediono, dengan dukungan
berbagai pihak, termasuk Sang Presiden, pendahulunya Burhanuddin Abdullah,
Menteri Keuangan Sri Mulyani, KADIN, serta seluruh fraksi di DPR kecuali PDIP.
Kiprahnya sebagai Gubernur Bank Indonesia tak bertahan
lama. Boediono digaet Susilo Bambang Yudhoyono pada Pemilu 2009. Dengan
dukungan berbagai partai, termasuk Partai Demokrat dan 23 lainnya, pasangan
tokoh militer-politik dan ekonom ini melangkah mantap, yang akhirnya resmi
menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia sejak 20 Oktober
2009.
Sang Presiden punya alasan tersendiri dalam menggaet
Boediono sebagai wakilnya. Sebagai non partisan, pria berkacamata ini dianggap
bebas kepentingan, sehingga mampu melakukan reformasi di bidang ekonomi sesuai
dengan ilmu yang dimilikinya.
Sayangnya, pendapat ini berseberangan dengan banyak pihak,
yang beranggapan Boediono tak cukup pantas berada di kursi pemerintahan
tertinggi setelah Presiden, mengingat latar belakang politiknya yang minim.
Boediono juga dianggap sebagai sosok yang cukup kontroversial, bahkan disebut
sebagai antek IMF, karena jumlah utang negara yang bertambah secara nominal.
Pria ini juga sempat disorot karena penentangannya terhadap subsidi sembako
yang dianggapnya sebagai candu yang terus memanjakan rakyat.
Tak hanya kontra yang menemani naiknya Boediono sebagai
Wakil Presiden. Sebagian pihak justru mengagumi prestasinya sebagai ekonom,
terutama kala dirinya menjabat sebagai Menteri. Walau secara nominal jumlah
hutang bertambah, secara rasio hutang negara justru menurun drastis. Pria ini
juga menjadi panutan karena berhasil mewujudkan Undang-Undang Surat Berharga
Syariah dan Perbankan Syariah. Anggapan sebagai antek IMF pun disangkal banyak
pihak, karena Boediono adalah salah satu pihak yang dekat dengan gagasan
ekonomi kerakyatan yang diwujudkannya dalam buku Ekonomi Pancasila.
PUBLIKASI:
- Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?: Kumpulan Esai Ekonomi
(2009)
- Stabilization in A Period of Transition: Indonesia
2001-2004 dalam The Australian Government-The Treasury, Macroeconomic Policy
and Structural Change in East Asia: Conference Proceedings, Sydney (2005)
- 'Managing The Indonesian Economy: Some Lessons From The
Past?', Bulletin of Indonesia Economic Studies, 41(3):309-324, Desember 2005.
- 'Professor Mubyarto, 1938-2005'. Bulletin of Indonesian
Economic Studies, 41(2):159-162, Agustus 2005.
- 'Kebijakan Fiskal: Sekarang dan Selanjutnya?', dalam
Subiyantoro dan S. Riphat (Eds.). 2004. Kebijakan Fiskal: Pemikiran, Konsep dan
Implementasi. Penerbit Buku Kompas, 43-55 pp.
- The International Monetary Fund Support Program in
Indonesia: Comparing Implementation Under Three Presidents dalam Bulletin of
Indonesia Economic Studies, 38(3): 385-392, Desember 2002.
- Indonesia menghadapi ekonomi global (2001)
- 'Strategi Industrialisasi: Adakah Titik Temu ?' dalam
Prisma, Tahun XV, No.1. (1986)
- Ekonomi Pancasila (bersama Ace Partadiredja, 1981)
Riset dan Analisa oleh: Ellyana
Mayasari
PENDIDIKAN
·
Bachelor of Economics (Hons.) dari Universitas Western Australia
(1967)
·
Master of Economics dari Universitas Monash (1972)
·
(Ph.D.) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas
Pennsylvania (1979)
KARIR
·
Executive Board for Asia - Wharton Advisory Boards, The Wharton
School of the University of Pennsylvania
·
Commissioner of Commission on Growth and Development
·
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Kabinet
Reformasi Pembangunan) 1998
·
Menteri Keuangan (Kabinet Gotong Royong) 2001
·
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2005)
·
Gubernur Bank Indonesia (2008)
·
Wakil Presiden Indonesia (2009)
·
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (sampai
sekarang)
PENGHARGAAN
·
Bintang Mahaputra Adipradana
·
Distinguished International Alumnus Award dari University of
Western
(Quoted from Merdeka.com )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar