DR. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, MA
Anak yatim adalah manusia yang
masih berusia sangat muda dan masih sangat membutuhkan kasih sayang, perhatian,
support dari orang lain. Seorang anak kecil seperti biasanya ingin dimanjakan
dan diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Segala sesuatu kebutuhan hidupnya
ingin secepatnya bisa terpenuhi, mulai dari kebutuhan dasar / primer seperti
makan dan minum hingga kebutuhan yang sekunder seperti mainan dan lain
sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seringkali kita menjumpai anak
kecil meronta, merengek bahkan menangis agar keinginannya bisa terpenuhi. Anak kecil sangat tergantung dengan orang
tuanya (terlebih lagi terhadap ibunya) dan orang orang yang disekelilingnya
agar bisa mendapatkan kasih sayang mereka. Ibu dalam bahasa arab disebut
“al-Umm” yang artinya sesuatu yang dituju. Kata “al-Imam” juga mempunyai makna
yang sama karena dia dijadikan tujuan oleh pengikutnya. Seorang Ibu karena rasa
kasih sayangnya yang besar dan keibuannya dijadikan tujuan oleh anak-anaknya.
Seorang anak yang baru pulang ke rumah biasannya akan mencari ibunya terlebih
dahulu untuk mendapatkan ketenangan hati dan melaporkan segala isi hatinya
setelah bermain dengan teman-temannya.
Namun keberadaan sang ayah juga
sangat penting, mengingat ayah adalah sebagai penanggung jawab, pemimpin dan
dalam masih menjadi tulang punggung keluarga, dan juga mempunyai andil besar
dalam menjaga rasa aman dalam keluarga. Bisa dibayangkan, jika ayah yang
menjadi tulang punggung dalam keluarga, tiba tiba harus meninggalkan dunia, apa
yang akan terjadi dalam sebuah keluarga ?
Sang Ibu tentu akan sangat sedih dan
kehilangan, karena ayah dan Ibu adalah laksana dua pendayung dan dua
sayap dalam satu keluarga yang bersama-sama mengayuh bahtera rumah tangga
menuju ke kehidupan bahagia yang didambakan. Maka sang Ibu harus menambah
perannya, sebagai ayah untuk mencari nafkah sebagai sumber kehidupan keluarga.
Bisa dibayangkan betapa susah dan repotnya seorang Ibu yang mempunyai peran
ganda seperti itu. Anak-anak yang ditinggalkan pasti merasa terpukul. Ayah yang
dijadikan panutan oleh anak-anaknya dalam keseharian, tidak lagi mereka temui.
Perasaan mereka menjadi hampa dan kosong. Ayah yang berada di garis terdepan
rumah tangga, tidak lagi berada bersama mereka. Jika hal ini bisa terjadi pada
orang lain, maka hal ini pasti juga bisa terjadi pada anak-anak kita sendiri.
Keadaan yang demikian ini menyebabkan
anak yatim perlu mendapatkan perhatian dari segenap masyarakat agar mereka bisa
melangsungkan kehidupannya dengan baik, sebagaimana anak-anak lainnya yang
masih memiliki Ayah dan Ibu. Kehangatan dan belaian ayah yang hilang perlu
digantikan oleh belaian tangan dan kasih sayang keluarga, masyarakat di
sekitarnya dan bahkan juga negara. Al-Qur’an sebagai kitab hidayah telah
memberikan perhatian yang penuh terhadap seluruh umat manusia. Al-Qur’an juga
selalu membela mereka yang lemah dan tertindas seperti perempuan dan anak-anak yatim.
Dalam al-Qur’an terdapat
sekitar 7 tempat yang menggunakan kosa
kata “yatim” dalam bentuk mufrad dan 10 tempat yang menggunakan kata “yatama”
dalam bentuk jamak. sedangkan dalam bentuk isim tyatsniah (orang dua tunggal)
hanya terdapat dalam 1 tempat. Berikut ini obyek pembicaraan tentang anak yatim
dalam al-Qur’an:
Allah menghimbau agar kaum
muslimin secara bersamaan memerhatikan anak yatim. Memperhatikan anak yatim
adalah bukan syari’at islam saja, karena kaum Bani Isra’il juga telah
diperintahkan untuk memerhatikan anak yatim. (al-Baqarah : 83. 220).
Dalam kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir dijelaskan bahwa keduanya memperbaiki satu tembok rumah yang sudah miring demi menjaga harta kedua anak yatim yang ada dibawahnya (al-Kahf: 82)
Dalam kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir dijelaskan bahwa keduanya memperbaiki satu tembok rumah yang sudah miring demi menjaga harta kedua anak yatim yang ada dibawahnya (al-Kahf: 82)
Ada 10 wasiat Allah kepada kaum
muslimin agar menjadi pegangan hidup mereka. Kesepuluh wasiat itu adalah :
1.larangan menyekutukan Allah,
2.perintah berbuat baik kepada kedua orang tua.
3.larangan membunuh anak karena kemiskinan.
4. larangan melakukan perbuatan yang keji baik yang nampak ataupun tidak.
5. larangan membunuh jiwa tanpa hak.
6. larangan memakan harta anak yatim.
7. perintah memenuhi timbangan dengan benar.
8. Perintah berbuat adil walau kepada kerabat.
9.perintah memenuhi janji.
10.larangan mengikuti jalan jalan yang sesat. (an-An’am: 151-153)
1.larangan menyekutukan Allah,
2.perintah berbuat baik kepada kedua orang tua.
3.larangan membunuh anak karena kemiskinan.
4. larangan melakukan perbuatan yang keji baik yang nampak ataupun tidak.
5. larangan membunuh jiwa tanpa hak.
6. larangan memakan harta anak yatim.
7. perintah memenuhi timbangan dengan benar.
8. Perintah berbuat adil walau kepada kerabat.
9.perintah memenuhi janji.
10.larangan mengikuti jalan jalan yang sesat. (an-An’am: 151-153)
Allah melarang keras menghardik
anak yatim (adl-Dluha:9) perbuatan tersebut termasuk perbuatannnya orang yang
menduskatan agama dan hari akhir (al-Ma’un:2). Allah menghardik orang kafir
yang tidak mau memuliakan anak yatim, dan tidak mau menghimbau orang lain untuk
memberi makan orang miskin (al-Fajr: 17)
Allah melarang memakan harta anak
yatim secara zalim. Hal itu termasuk dosa yang besar. Allah mengancam mereka
dengan api neraka ( an-Nisa’:2, 10).
Allah memerintahkan kepada
pengasuh anak yatim untuk menguji kepintaran mereka dalam mengelola harta
mereka sendiri. Jika sudah pintar barulah harta tersebut diserahkan kepada
mereka dengan dipersaksikan. Allah
membolehkan bagi pengasuh anak yatim untuk memakan harta anak yatim tersebut
jika memang benar benar miskin, tapi
dengan takaran yang secukupnya saja. Sedangkan bagi mereka yang sudah cukup
akan lebih baik mengekang diri dan tidak ikut memakan harta anak yatim
(an-Nisa’:6).
Allah menjelaskan bahwa salah
satu sifat orang yang baik adalah : 1.Iman kepada Allah, hari akhir, Malaikat,
para Nabi. 2.Memberikan infak harta kepada sanak kerabat, anak yatim, orang
miskin, musafir (ibn sabil), orang yang minta minta, dan memerdekakan hamba
sahaya. 3.melaksanakan salat dan menunaikan zakat. 4.mempunyai integritas
pribadi sebagi orang yang selalu memenuhi janji dan bersabar dalam segala
suasana. ( al-Baqarah:220)
Salah satu sifat orang yang akan
masuk sorga adalah memberi makan dengan ikhlas kepada fakir miskin, anak yatim,
tawanan perang. ( al-Insan:8). Jalan hidup yang sukar yang ditempuah oleh
mereka yang beriman adalah memerdekakan hamba sahaya, memberi makan kepada anak
yatim, fakir miskin, pada saat kekurangan (al-Balad:11-16)
Selanjutnya Al-Qur’an menghimbau
kepada kaum muslimin agar infak kepada anak yatim bisa diambilkan dari harta
pampasan perang (Ghanimah) (al-Anfal:41) atau dari harta Fai’ yaitu harta yang
diambil dari orang kafir harbi tanpa perang (al-Hasyr :7) atau dari hasil
pembagian harta warisan (an-Nisa’:8).
Dari pemaparan diatas, nyatalah
bahwa Allah sangat menaruh perhatian kepada anak yatim melalui berbagai macam
cara yaitu memerhatikan mereka, menjaga harta mereka sampai mereka dewasa dan
pintar mengelola uang, tidak boleh memakan harta mereka secara zalim. Allah
melarang seseorang menghardik anak yatim, karena hal itu melukai hati mereka,
sementara mereka tidak ada yang bisa menerima keluh kesah mereka.
Semua tanggung jawab tersebut
dipikulkan pertama kepada keluarga bapak, keluarga ibu, seperti paman pamannya,
lalu kerabat yang diluar itu. Setelah itu menjadi kewajiban masyarakat muslim
untuk memerhatikan mereka dengan segala macam cara yang baik. Jika semua upaya
tersebut dilakukan, maka kiranya tidak ada satu anak yatim pun terlantar. Namun
sebaliknya jika masih banyak anak yatim yang terlantar, maka semua himbauan
dari Allah melalui ayat ayat diatas belum banyak berarti dalam menumbuh
kembangkan kesadaran dan kepedulian kepada anak yatim.
(Quoted from Panti Asuhan Blog)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar